
Sungai Ambawang,- Tak ada rotan, akar pun jadi....Begitulah gambaran perajin Akar Keladi di Sungai Ambawang. Salah satunya, Ahiyong. Umumnya masyarakat membuat kerajinan tangan dengan bambu atau rotan, tetapi ditangan Ahiyong dan kelompok perajinnya akar keladi bisa menjadi maha karya yang menarik. Tak kalah saing dengan kerajinan dari hasil bambu dan rotan. Lalu bagaimana nasib mereka sekarang. Mampukah mereka bertahan dengan kerajinan tersebut.
DARI kejauhan terdengar suara orang mengobrol panjang. Suara obrolan bersaing dengan bunyi motor air yang lalu lalang. Rumah dekat tepi sungai tersebut pun mengundang tanya. Ternyata sekelompok wanita asik bercanda sambil menganyam sesuatu. Sepi menyapa, tangan yang bekerja sejenak terhenti, ketika Pontianak Post menyambangi kerumunan sekelompok wanita tersebut. Setelah memperkenalkan diri, tangan yang terdiam kembali bekerja menyelesaikan pekerjaan tertunda.
Dengan telaten dan penuh kesabaran Ahiyong memilih akar keladi pilihan. Akar yang dipilih harus panjang. Minimal sekitar lima meter. Lalu dipilih akar bagus. Yaitu akar yang memiliki daya lentur dan kuat. Setelah pemilihan akar, Ahiyong melanjutkan membuang kulit serta getahnya. Dilanjutkan dengan menjemur akar di atap seng agar semakin terlihat bagus dan kuat. Tak berapa lama akar keladi diambil dari jemuran. Siap untuk dijadikan bahan untuk pembuatan kerajinan tangan. Begitulah celoteh wanita berusia 70 tahun tersebut.
Begitulah gambaran aktivitas sehari-hari yang selalu dilakukan Ahiyong ketika mendapat pesanan dari pelanggan. Ia adalah sesepuh dari sejumlah perajin berskala rumah tangga yang terletak di tepi sungai Ambawang, tepatnya Gang Manunggal, Sungai Ambawang, Kelurahan Kuala Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Disinilah mereka menciptakan buah tangan dari akar keladi.
Aktivitas tersebut dilakoninya sejak 1986 sampai sekarang. Awal mulanya kerajinan tangan itu dilakoni Ahiyong sendiri di kampungnya. Namun lama kelamaan mulai diikuti tetangganya. Itupun setelah kerajinannmya mulai dikenal masyarakat luar, termasuk dari mancanegara.
Awalnya, kerajinan Ahiyong menganyam sangat sederhana dan belum menampilkan bentuk–bentuk baru. Setelah sering mengikuti pelatihan kerajinan yang diadakan Dinas Perindusrian Kabupaten Pontianak, diapun menjadi ahli dan produk yang dihasilkanpun bervariasi. Pelatihan juga didapatkannya dari Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Pontianak, sekitar tahun 1986-1987. Tak jarang Ahiyong mengikuti latihan di luar Kalimantan Barat untuk meningkatkan kemampuannya dalam bidang anyaman. “Keahlian dalam menganyam telah mengubah hidup saya sehingga memungkinkan saya untuk membuat usaha kecil-kecilan di rumah,” ungkapnya.
Atas kemampuannya itu, Ahiyong “tidak pelit.” Iapun dengan ikhlas menularkan keahliannya kepada anak dan tetangga sekitar lingkungan rumahnya. Kerajinan keladi air berkembang sampai menjadi usaha kecil-kecilan itupun pun telah banyak mengembara. Tidak hanya sebatas ditampilkan di pameran lokal, nasional maupun Internasionalpun dirambah. Pameran itu pula membuat Ahiyong menginjakkan kaki di Malaysia, Brunei dan Singapura. Sampai sekarang pun, karyanya digunakan dinas tertentu sebagai pajangan pada pameran sebagai hasil industri kerajinan asal daerah tersebut.
Kerajinan itu mampu menjadi penopang hidup keluarganya dan meringankan tanggung jawab suami dalam perekonomian keluarga. Bahkan ketika sang suami menghadap Tuhan Yang Maha Esa, kerajinan keladi air Ahiyong dapat mencukupi kehidupan tujuh anak. Wanita yang dikenal santun ini tak jarang melibatkan tetangga jika mendapat pesanan yang banyak.Tentunya, para tetangga tersebut sudah dilatih Ahiyong.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar